Penampakan Zaman Dalam Puisi Jazz Umbu Landu Paranggi

Gaya ungkap yang tulus dan sederhana dalam sebuah puisi, ternyata mengandung terobosan dan visi yang melampau zaman. Di permulaan Orde Pembangunan, penyair Umbu Landu Paranggi sudah membangun imajinasi tentang nasib hitam yang pelan terbakar/ dan sukma yang diam-diam kan menjilat pencakar2 langit. Tak keliru jika ditafsir, nasib hitam yang dimaksud adalah nasib tragis bangsa Indonesia di tengah Pembangunanisme yang  saat itu baru saja digencarkan pemerintah.

Riki Dhamparan Putra memberikan pendapatnya perihal puisi tersebut di tatkala.co

Iklan

Pengalaman Bambang Q. Anees Membaca Puisi Riki Dhamparan Putra

Menurut pengajar sekaligus Ketua Program Studi Religious Studies Pasca Sarjana di UIN Bandung ini, Riki Dhamparan Putra begitu leluasa bermain-main dalam puisinya, tanpa harus menjadi mantra atau rentetan bunyi yang melenting-lenting seperti bola pantul. Seperti bola pantul yang ringan, kata disajikan begitu saja seperti sebuah canda: ia ingin bahagia dengan gigi palsu/ yang telah lama menggigitnya. Gigi berfungsi untuk menggigi(t), namun justru pada baris-baris ini gigilah yang digigit. Hahaha entah apa yang terbangun antara sajak dan gigi palsu dalam imajinasi Riki:

Kalau gigi palsu nenek dicabut
Sajakku  akan ompong
Lebih baik biarkan
Toh gigi juga
Toh ia telah banyak membantuku
untuk mengunyah banyak jenis makanan
(Gigi Palsu)

selanjutnya di TeraSeni

Sastra NTT dan Politik Publikasi

artikel dari Pos Kupang 21 januari 2009
(Catatan Buat Yoseph Lagadoni Herin)Oleh Bara Pattyradja

SAYA menyambut baik gagasan genuine Yoseph Lagadoni Herin yang tertuang lewat esainya, “Sastra NTT Tak Pernah Mati” di harian Pos Kupang edisi 06/01/2009. Yang paling pertama menyentuh hati saya adalah respeknya yang sungguh-sungguh terhadap masa depan kehidupan sastra di NTT. Ia seorang wakil bupati yang setahu saya lebih tulus mencintai puisi dari pada politik. Sulit rasanya mencari sosok pemimpin yang benar-benar peduli pada pembangunan alam batin masyarakatnya, di tengah aras pembangunan bangsa yang oportunistik, pembangunan yang menghamba pada materi, pembangunan yang tidak punya keberpihakan sama sekali pada dimensi immaterial kemanusiaan kita!
Baca lebih lanjut

Cagar Budaya Masyarakat Alor

oleh Charlemen Jahadael

Alor,  sebuah kabupaten di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), terletak paling timur dalam gugusan kepulauan di sebelah utara wilayah NTT. Kabupaten ini terdiri dari tiga pulau besar, yakni pulau Alor, pulau Pantar, dan pulau Pura, dan sejumlah pulau kecil tidak berpenghuni ini, memiliki keunikan tersendiri sebagai satu kesatuan dari sebuah daerah Administratif. Keunikan inilah yang kemudian sempat juga membuat Magelhaens menyinggahinya, saat berlayar kembali dari Maluku menuju Eropa pada tanggal 12 januari 1522.

Ada ciri khas yang menarik, yang dimiliki oleh masyarakat di daerah tersebut, yakni mas kawin. Mas kawin yang dimiliki tidak seperti mas kawin yang umumnya digunakan di daerah lain di NTT. Di NTT, umumnya menggunakan hewan piaraan sebagai mas kawin. Namun tidak demikian dengan masyarakat Alor. masyarakat alor menggunakan benda peninggalan nenek moyang sebagai mas kawin. Benda yang digunakan sebagai mas kawin itu disebut masyarakat setempat dengan nama moko[2]Baca lebih lanjut